Halaman

Rabu, 16 November 2011

Sejarah Tarian Gandrung Banyuwangi Titisan Suku Using.

Mendengar nama 'Gandrung' orang akan berpikir tentang arti kata dalam bahasa indonesia, yaitu suka, tergila-gila, atau idola . Jangan salah, jika tari gandrung adalah suatu budaya titisan nenek moyang yang menyuguhkan tarian yang bisa membuat penikmat seni menjadi 'Gandrung' atau terpikat oleh gerakan, musik, dan para penari-penarinya. Ternyata tarian khas Banyuwangi yang pernah tampil di berbagai negara ini memiliki cerita dan sejarah yang unik.
Oleh masyarakat Banyuwangi, kata ""Gandrung"" diartikan  sebagai terpesonanya masyarakat Blambangan yang agraris kepada Dewi Sri sebagai Dewi Padi yang membawa kesejahteraan bagi masyarakat kota Blambangan. Tari Gandrung dipertontonkan sebagai wujud syukur atas hasil panen. 

Menurut catatan sejarah, gandrung pertama kalinya ditarikan oleh para lelaki yang didandani seperti perempuan dan menurut laporan Scholte (1927), instrumen utama yang mengiringi tarian gandrung lanang ini adalah kendang. Pada saat itu, biola telah digunakan. Namun demikian, gandrung laki-laki ini lambat laun lenyap dari Banyuwangi sekitar tahun 1890an, yang diduga karena ajaran Islam melarang segala bentuk transvestisme atau berdandan seperti perempuan. Namun, tari gandrung laki-laki baru benar-benar lenyap pada tahun 1914, setelah kematian penari terakhirnya, yang bernama Marsan.

Menurut sejumlah sumber, kelahiran Gandrung ditujukan untuk menghibur para pembabat hutan, mengiringi upacara minta selamat, berkaitan dengan pembabatan hutan yang angker. Gandrung wanita pertama yang dikenal dalam sejarah adalah gandrung Semi, seorang anak kecil yang waktu itu masih berusia sepuluh tahun pada tahun 1895. Menurut cerita yang dipercaya, waktu itu Semi menderita penyakit yang cukup parah. Segala cara sudah dilakukan hingga ke dukun, namun Semi tak juga kunjung sembuh. Sehingga ibu Semi (Mak Midhah) bernazar seperti “Kadhung sira waras, sun dhadekaken Seblang, kadhung sing yo sing” (Bila kamu sembuh, saya jadikan kamu Seblang, kalau tidak ya tidak jadi). Ternyata, akhirnya Semi sembuh dan dijadikan seblang (penari) sekaligus memulai babak baru dengan ditarikannya gandrung oleh wanita.

Tradisi gandrung yang dilakukan Semi ini kemudian diikuti oleh adik-adik perempuannya dengan menggunakan nama depan Gandrung sebagai nama panggungnya. Kesenian ini kemudian terus berkembang di seantero Banyuwangi dan menjadi ikon khas setempat. Pada mulanya gandrung hanya boleh ditarikan oleh para keturunan penari gandrung sebelumnya, namun sejak tahun 1970-an mulai banyak gadis-gadis muda yang bukan keturunan gandrung yang mempelajari tarian ini dan menjadikannya sebagai sumber mata pencaharian di samping mempertahankan eksistensinya yang makin terdesak sejak akhir abad ke-20.

Tari Gandrung masih satu Genre dengan beberapa tarian seperti Ketuk Tilu di Jawa Barat, Tayub di Jawa Tengah dan Jawa Timur bagian barat, Lengger di wilayah Banyumas dan Joged Bumbung di Bali, dengan melibatkan seorang wanita penari profesional yang menari bersama-sama tamu (terutama pria) dengan iringan musik (gamelan).Gandrung merupakan seni pertunjukan yang disajikan dengan iringan musik khas perpaduan budaya Jawa dan Bali. Tarian dilakukan dalam bentuk berpasangan antara perempuan (penari gandrung) dan laki-laki (pemaju) yang dikenal dengan "paju" Kesenian ini masih satu bentuk kesenian yang didominasi tarian dengan orkestrasi khas ini populer di wilayah Banyuwangi yang terletak di ujung timur Pulau Jawa, dan telah menjadi ciri khas dari wilayah tersebut, hingga tak salah jika Banyuwangi selalu diidentikkan dengan gandrung. Kenyataannya, Banyuwangi sering dijuluki Kota Gandrung dan patung penari gandrung dapat dijumpai di berbagai sudut wilayah Banyuwangi.

Sejak tahun 2000, antusiasme seniman-budayawan Dewan Kesenian Blambangan meningkat. Gandrung, dalam pandangan kelompok ini adalah kesenian yang mengandung nilai-nilai historis komunitas Using yang terus-menerus tertekan secara struktural maupun kultural. Dengan kata lain, Gandrung adalah bentuk perlawanan kebudayaan daerah masyarakat Using.

Di sisi lain, penari gandrung tidak pernah lepas dari prasangka atau citra negatif di tengah masyarakat luas. Beberapa kelompok sosial tertentu, terutama kaum santri menilai bahwa penari Gandrung adalah perempuan yang berprofesi amat negatif dan mendapatkan perlakuan yang tidak pantas, tersudut, terpinggirkan dan bahkan terdiskriminasi dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai anak bangsa yang cinta akan tanah leluhurnya, sepatutnya kita jaga kelestarian akan budaya  bangsa ini tanpa mengenal Ras dan suku. Kita adalah satu, yaitu bangsa indonesia yang Bhineka Tunggal Ika. (Sumber : Wikipedia)

banyuwangi


 

http://renalupitasari.student.umm.ac.id/files/2010/07/peta_banyuwangi-251x300.gif
Letak geografis Banyuwangi yang berbatasan dengan Pulau Bali memungkinkan kawasan ujung timur Pulau Jawa ini sebagai tempat silang budaya. Kabupaten Banyuwangi merupakan bagian yang paling Timur dari Wilayah Propinsi Jawa Timur, terletak diantara koordinat 743 - 864 Lintang Selatan dan 113 53 – 114 38 Bujur Timur dan dengan ketinggian antara 25 - 100 meter di atas permukaan laut. Kabupaten memiliki panjang garis pantai sekitar 175,8 km yang membujur sepanjang batas selatan timur Kabupaten Banyuwangi, serta jumlah pulau ada 10 buah.
Bahasa Asli Banyuwangi
Bahasa asli dari masyarakat banyuwangi yaitu adalah bahasa Using. yang merupakan turunan langsung dari bahasa Jawa Kuno seperti halnya Bahasa Bali.
Sistem Pengucapan atau Fonologi
Bahasa Jawa Using mempunyai keunikan dalam sistem pelafalannya, antara lain:
Adanya diftong [ai] untuk vokal [i] : semua leksikon berakhiran "i" pada bahasa Jawa Osing khususnya Banyuwangi selalu terlafal "ai". Seperti misalnya "geni" terbaca "genai", "bengi" terbaca "bengai", "gedigi" (begini) terbaca "gedigai".
Adanya diftong [au] untuk vokal [u]: leksikon berakhiran "u" hampir selalu terbaca "au". Seperti "gedigu" (begitu) terbaca "gedigau", "awu" terbaca "awau".
Lafal konsonan [k] untuk konsonan [q]. Di Bahasa Jawa, terutama pada leksikon berakhiran huruf "k" selalu dilafalkan dengan glottal "q". Sedangkan di Bahasa Jawa Osing, justru tetap terbaca "k" yang artinya konsonan hambat velar. antara lain "apik" terbaca "apiK", "manuk", terbaca "manuK" dan seterusnya.
Konsonan glotal [q] yang di Bahasa Jawa justru tidak ada seperti kata [piro'], [kiwo'] dan demikian seterusnya. Palatalisasi [y]. Dalam Bahasa Jawa Osing, kerap muncul pada leksikon yang mengandung [ba], [pa], [da], [wa]. Seperti "bapak" dilafalkan "byapak", "uwak" dilafalkan "uwyak", "embah" dilafalkan "embyah", "Banyuwangi" dilafalkan "byanyuwangai", "dhawuk" dibaca "dyawuk".
Pengaruh Bahasa Inggris juga masuk kedalam bahasa ini melalui para tuan tanah yang pernah tinggal dikawasan tersebut, seperti dalam kata :
• Sulung dari kata so long namun bermakna duluan
• Nagud dari kata no good bermakna jelek
• Ngepos dari kata pause bermakna berhenti
• Kekel dari kata cackle bermakna tertawa terpingkal-pingkal
Tarian Gandrung Banyuwangi
http://renalupitasari.student.umm.ac.id/files/2010/07/gandrung-188x300.jpg
Gandrung Banyuwangi berasal dari kata “gandrung”, yang berarti ‘tergila-gila’ atau ‘cinta habis-habisan’ dalam bahasa jawa. Kesenian ini masih satu genre dengan seperti ketuk tilu di Jawa barat, tayub di Jawa Tengah dan Jawa Timur bagian barat, lengger di wilayah Banyumas dan Joged Bumbung di Bali, dengan melibatkan seorang wanita penari profesional yang menari bersama-sama tamu (terutama pria) dengan iringan musik (gamelan).
Bentuk kesenian yang didominasi tarian dengan orkestrasi khas ini populer di wilayah Banyuwangi yang terletak di ujung timur Pulau jawa, dan telah menjadi ciri khas dari wilayah tersebut, hingga tak salah jika Banyuwangi selalu diidentikkan dengan gandrung. Kenyataannya, Banyuwangi sering dijuluki Kota Gandrung dan patung penari gandrung dapat dijumpai di berbagai sudut wilayah Banyuwangi.
Gandrung sering dipentaskan pada berbagai acara, seperti perkawinan, pethik laut, khitanan, tujuh belasan dan acara-acara resmi maupun tak resmi lainnya baik di Banyuwangi maupun wilayah lainnya. Menurut kebiasaan, pertunjukan lengkapnya dimulai sejak sekitar pukul 21.00 dan berakhir hingga menjelang subuh (sekitar pukul 04.00).
Asal Usul Tari Gandrung
Menurut catatan sejarah, gandrung pertama kalinya ditarikan oleh para lelaki yang didandani seperti perempuan dan menurut laporan Scholte (1927) instrumen utama yang mengiringi tarian gandrung lanang ini adalah kendang. Namun demikian, gandrung laki-laki ini lambat laun lenyap dari Banyuwangi sekitar tahun 1890-an, yang dimungkinkan karena ajaran Islam melarang segala bentuk travesty atau berdandan seperti perempuan. Namun, tari gandrung laki-laki baru benar-benar lenyap pada tahun 1914, setelah kematian penari terakhirnya, yakni Marsan.
Sedangkan Gandrung wanita pertama yang dikenal dalam sejarah adalah gandrung Semi, seorang anak kecil yang waktu itu masih berusia sepuluh tahun pada tahun 1895. Menurut cerita yang dipercaya, waktu itu Semi menderita penyakit yang cukup parah. Segala cara sudah dilakukan hingga ke dukun, namun Semi tak juga kunjung sembuh. Sehingga ibu Semi (Mak Midhah) bernazar seperti “Kadhung sira waras, sun dhadekaken Seblang, kadhung sing yo sing” (Bila kamu sembuh, saya jadikan kamu Seblang, kalau tidak ya tidak jadi). Ternyata, akhirnya Semi sembuh dan dijadikan Seblang sekaligus memulai babak baru dengan ditarikannya Gandrung oleh wanita.
Makanan Khas Banyuwangi

  • Rujak Soto
http://renalupitasari.student.umm.ac.id/files/2010/07/porsi-rujak-soto1-300x225.jpg
Rujak soto adalah makanan perpaduan antara rujak dan soto ini hanya dapat kita temui di Banyuwangi. Karena sajian beraroma nikmat ini, merupakan sajian khas Banyuwangi.
  • Nasi tempong
http://renalupitasari.student.umm.ac.id/files/2010/07/js-seafood2.jpg
Makanan lain yang populer di Banyuwangi adalah nasi tempong. Tempong sebetulnya berarti tempeleng atau tampar. Konon karena penjualnya seolah menamparkan segenggam nasi ke pincuk daun pisang yang dipakai untuk menyajikan makanan. Kecilnya porsi nasi tempong membuatnya sejajar dengan sego kucing di Solo dan Yogya.
Kemungkinan lain penamaan nasi tempong adalah sambalnya yang amat sangat pedas. Banyak yang sampai berlinang air mata saking pedasnya, seperti habis ditempeleng. Nasi tempong adalah konsumsi rakyat yang sangat populer di Banyuwangi. Lauk default untuk sajian ini adalah tempe, tahu, dan ikan asin goreng. Harganya sangat terjangkau dan ekonomis buat semua kalangan masyarakat.

all about banyuwangi

http://renalupitasari.student.umm.ac.id/files/2010/07/peta_banyuwangi-251x300.gif
Letak geografis Banyuwangi yang berbatasan dengan Pulau Bali memungkinkan kawasan ujung timur Pulau Jawa ini sebagai tempat silang budaya. Kabupaten Banyuwangi merupakan bagian yang paling Timur dari Wilayah Propinsi Jawa Timur, terletak diantara koordinat 743 - 864 Lintang Selatan dan 113 53 – 114 38 Bujur Timur dan dengan ketinggian antara 25 - 100 meter di atas permukaan laut. Kabupaten memiliki panjang garis pantai sekitar 175,8 km yang membujur sepanjang batas selatan timur Kabupaten Banyuwangi, serta jumlah pulau ada 10 buah.
Bahasa Asli Banyuwangi
Bahasa asli dari masyarakat banyuwangi yaitu adalah bahasa Using. yang merupakan turunan langsung dari bahasa Jawa Kuno seperti halnya Bahasa Bali.
Sistem Pengucapan atau Fonologi
Bahasa Jawa Using mempunyai keunikan dalam sistem pelafalannya, antara lain:
Adanya diftong [ai] untuk vokal [i] : semua leksikon berakhiran "i" pada bahasa Jawa Osing khususnya Banyuwangi selalu terlafal "ai". Seperti misalnya "geni" terbaca "genai", "bengi" terbaca "bengai", "gedigi" (begini) terbaca "gedigai".
Adanya diftong [au] untuk vokal [u]: leksikon berakhiran "u" hampir selalu terbaca "au". Seperti "gedigu" (begitu) terbaca "gedigau", "awu" terbaca "awau".
Lafal konsonan [k] untuk konsonan [q]. Di Bahasa Jawa, terutama pada leksikon berakhiran huruf "k" selalu dilafalkan dengan glottal "q". Sedangkan di Bahasa Jawa Osing, justru tetap terbaca "k" yang artinya konsonan hambat velar. antara lain "apik" terbaca "apiK", "manuk", terbaca "manuK" dan seterusnya.
Konsonan glotal [q] yang di Bahasa Jawa justru tidak ada seperti kata [piro'], [kiwo'] dan demikian seterusnya. Palatalisasi [y]. Dalam Bahasa Jawa Osing, kerap muncul pada leksikon yang mengandung [ba], [pa], [da], [wa]. Seperti "bapak" dilafalkan "byapak", "uwak" dilafalkan "uwyak", "embah" dilafalkan "embyah", "Banyuwangi" dilafalkan "byanyuwangai", "dhawuk" dibaca "dyawuk".
Pengaruh Bahasa Inggris juga masuk kedalam bahasa ini melalui para tuan tanah yang pernah tinggal dikawasan tersebut, seperti dalam kata :
• Sulung dari kata so long namun bermakna duluan
• Nagud dari kata no good bermakna jelek
• Ngepos dari kata pause bermakna berhenti
• Kekel dari kata cackle bermakna tertawa terpingkal-pingkal
Tarian Gandrung Banyuwangi
http://renalupitasari.student.umm.ac.id/files/2010/07/gandrung-188x300.jpg
Gandrung Banyuwangi berasal dari kata “gandrung”, yang berarti ‘tergila-gila’ atau ‘cinta habis-habisan’ dalam bahasa jawa. Kesenian ini masih satu genre dengan seperti ketuk tilu di Jawa barat, tayub di Jawa Tengah dan Jawa Timur bagian barat, lengger di wilayah Banyumas dan Joged Bumbung di Bali, dengan melibatkan seorang wanita penari profesional yang menari bersama-sama tamu (terutama pria) dengan iringan musik (gamelan).
Bentuk kesenian yang didominasi tarian dengan orkestrasi khas ini populer di wilayah Banyuwangi yang terletak di ujung timur Pulau jawa, dan telah menjadi ciri khas dari wilayah tersebut, hingga tak salah jika Banyuwangi selalu diidentikkan dengan gandrung. Kenyataannya, Banyuwangi sering dijuluki Kota Gandrung dan patung penari gandrung dapat dijumpai di berbagai sudut wilayah Banyuwangi.
Gandrung sering dipentaskan pada berbagai acara, seperti perkawinan, pethik laut, khitanan, tujuh belasan dan acara-acara resmi maupun tak resmi lainnya baik di Banyuwangi maupun wilayah lainnya. Menurut kebiasaan, pertunjukan lengkapnya dimulai sejak sekitar pukul 21.00 dan berakhir hingga menjelang subuh (sekitar pukul 04.00).
Asal Usul Tari Gandrung
Menurut catatan sejarah, gandrung pertama kalinya ditarikan oleh para lelaki yang didandani seperti perempuan dan menurut laporan Scholte (1927) instrumen utama yang mengiringi tarian gandrung lanang ini adalah kendang. Namun demikian, gandrung laki-laki ini lambat laun lenyap dari Banyuwangi sekitar tahun 1890-an, yang dimungkinkan karena ajaran Islam melarang segala bentuk travesty atau berdandan seperti perempuan. Namun, tari gandrung laki-laki baru benar-benar lenyap pada tahun 1914, setelah kematian penari terakhirnya, yakni Marsan.
Sedangkan Gandrung wanita pertama yang dikenal dalam sejarah adalah gandrung Semi, seorang anak kecil yang waktu itu masih berusia sepuluh tahun pada tahun 1895. Menurut cerita yang dipercaya, waktu itu Semi menderita penyakit yang cukup parah. Segala cara sudah dilakukan hingga ke dukun, namun Semi tak juga kunjung sembuh. Sehingga ibu Semi (Mak Midhah) bernazar seperti “Kadhung sira waras, sun dhadekaken Seblang, kadhung sing yo sing” (Bila kamu sembuh, saya jadikan kamu Seblang, kalau tidak ya tidak jadi). Ternyata, akhirnya Semi sembuh dan dijadikan Seblang sekaligus memulai babak baru dengan ditarikannya Gandrung oleh wanita.
Makanan Khas Banyuwangi

  • Rujak Soto
http://renalupitasari.student.umm.ac.id/files/2010/07/porsi-rujak-soto1-300x225.jpg
Rujak soto adalah makanan perpaduan antara rujak dan soto ini hanya dapat kita temui di Banyuwangi. Karena sajian beraroma nikmat ini, merupakan sajian khas Banyuwangi.
  • Nasi tempong
http://renalupitasari.student.umm.ac.id/files/2010/07/js-seafood2.jpg
Makanan lain yang populer di Banyuwangi adalah nasi tempong. Tempong sebetulnya berarti tempeleng atau tampar. Konon karena penjualnya seolah menamparkan segenggam nasi ke pincuk daun pisang yang dipakai untuk menyajikan makanan. Kecilnya porsi nasi tempong membuatnya sejajar dengan sego kucing di Solo dan Yogya.
Kemungkinan lain penamaan nasi tempong adalah sambalnya yang amat sangat pedas. Banyak yang sampai berlinang air mata saking pedasnya, seperti habis ditempeleng. Nasi tempong adalah konsumsi rakyat yang sangat populer di Banyuwangi. Lauk default untuk sajian ini adalah tempe, tahu, dan ikan asin goreng. Harganya sangat terjangkau dan ekonomis buat semua kalangan masyarakat.